Sjafruddin Prawiranegara, Presiden Darurat Penyelamat Republik

2
128
Foto Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Sumber Minews.id

Isi Artikel

Kisah di balik hari bela negara

Wakil Presiden Hatta dalam memoarnya menyebut Mr. Sjafruddin Prawiranegara “Sang Presiden Darurat”. Sebutan ini diberikan Hatta berkat jasa Sjafruddin menyelamatkan Republik Indonesia pada saat terjadi agresi militer Belanda II. Langkahnya membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dinilai sangat tepat.

Meski demikian Sjafruddin tidak punya niat sedikitpun untuk memperolehnjabatan. Pada markas gerilyanya, di Padang Japang Sjarifudin pernah berucap bahwa “ Tak pernah mimpi untuk mencari pangkat dan jabatan, di hadapan hanya terbayang perjuangan menyelamatkan Republik bermodalkan kejujuran dan pengorbanan.”

Sjarifuddin membentuk PDRI sebagai reaksi terjadinya Agresi iliter Belanda II pada tanggal 19 Desember 1945 atas Yogyakarta Ibukota RI pada saat itu. Serta terjadinya penangkapan dan pengasingan Presiden dan Wakil Presiden RI, Soekarno dan Hatta.

Tidak Pernah Menerima Surat Mandat

Hatta : Ghandi Of Java

Baca Juga : Hatta : Ghandi Of Java

Baca Juga : Untuk Negeriku, Otobiografi Bung Hatta

Pada saat penangkapan itu, Prsiden Soekarno mengirim telegram kepada Sjafruddin Prawiranegara yang menjabatsebagai Menteri Kemakmuran RI dan tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Berikut isi Surt Mandat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta adalah sebagai berikut :

“Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu, tanggal 19-12-1948, djam 6 pagi, Belanda telah memulai serangannja atas Ibukota Jogjakarta.
Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannya lagi, kami menguasakan pada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra.
Jogjakarta, 19 Desember 1948

Presiden Wakil Presiden
Soekarno Moh. Hatta”

Namun, telegram tersebut tidak pernah sampai ke tangan Sjafruddin, hal ini di sebabkan Gedung PTT (Pos, Telepon dan Telegram) telah di duduki NICA. Sjafruddin dan tokoh-tokoh bangsa lainnya berinisiatif membentuk PDRI guna menyelamatkan Negara RI.

Meskipun secara resmi telegram Presiden Soekarno belum diterima sampai tanggal 22 Desember 1948, sejumlah tokoh pemimpin Republik yang berada di Sumatra berkumpul di Halaban guna mengadakan rapat dengan keputusan untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Rapat tersebut dihadiri oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mr. T. M. Hasan, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Kolonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indracaya, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr. A. Karim, Rusli Rahim, dan Mr. Latif. Dengan menjadikan Mr. Sjarifuddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI.

PDRI selamtkan Negara Republik Indonesia dari Rimba

Baca Juga : Begini Isi Buku “How Democracies Die”

Rekomendasi Untuk Anda  : Daftar Perdana Mentri yang Pernah Menjabat di Indonesia

Baca ini : Baca Juga Otto Si Pencetus Pekik Merdeka dan Misteri Kematiannya

Sjafruddin berinisiasi membentuk PDRI guna menyelamatkan Negara Republik Indonesia. Indonesia berada dalam kondisi yang berbahaya, di asingkannya Presiden dan wakil presiden menyebabkan terjadinya kekosongan kepala pemerintahan.

Indonesia yang baru saja merdeka harus mempunyai kepala pemerintahan agar bisa di akui sebagai sebuah Negara.

Mr. Sjarifuddin Prawiranegara dengan PDRI mempertahankan adanya pemerintahan yang resmi beserta kabinetnya yang merupakan syarat diakuinya Indonesia menjadi sebuah Negara.

Setelah PDRI terbentuk pada tanggal 22 Desember 1948, keseokan haarinya, 23 Desember 1948 melalui radio guna mengakabarkan kondisi Indonesia saat itu dengan adanya Agresi militer belanda II, serta mengabarkan bahwa pemerintahan masih tetap berdaulat.

Gerakan PDRI bersifat mobile, berpindah dari satu tempat ke tempat ke tempat lainnya sambil terus menyamar. Hal ini dilakukan guna menghindari kejaran dan serangan belanda.

Menurut MR.T.M Hasan yang menjabat sebagai Wakil Ketua PDRI, Rombongan PDRI kerap tidur di hutan belukar, di pinggir sungai Batanghari, dan sangat kekurangan makanan. Serta harus menggotong radio dan berbagai perlengkapan lainnya.

Dalam pengembaraan guna memepertahannkan proklamasi kemanapun rombongan PDRI membawa radio untuk memproklamasikan dan mengabarkan kemerdekaan Indonesia.

Berhasil Berkomunikasi dengan Nehru

Tak menyerah PDRI terus bergerak dari hutan kehutan dan akhrinya Pada tanggal 17 Januari 1949 radio PDRI berhasil berkomunikasi dengan New Delhi guna menyebarluaskan bahwa NKRI masih ada dan dapat dipertahankan.

Dan pada tanggal 21 Januari 1949 Sjafruddin prawiranegara berhasil berkomunikasi dengan Nehru dan Peserta Konverensi New Delhi dengan tujuan utamanya mengabarkan bahwa Negara Republik Indonesia masih ada.

Selain dengan Nehru Mr. Sjafrudiin juga berhasil berkomunikasi dengan beberapa pemimpin di luarnegeri dan berhasil memebentuk perwakilan di luar negeri. Termasuk dibentuknya perwakilan di perserikatan bangsa-bangsa. Dengan tujuan agar Indonesia mendapatkan pengakuan dan eksistensinya disebarluaskan.

Usaha PDRI yang di pimpin Mr. Sjafruddin berhasil memaksa Belanda berunding dengan Indonesia. Dengan hasil perundingan adalah pembebasan Soekarno-Hata dari pengasingan ke Yogyakarta, Ibukota Indonesia pada waktu itu.

Sjafruddin Prawiranegara Menyerahkan Kembali Mandat Ke Sukarno

Selama enam bulan Mr. Sjafruddin memimpin Pemerintahan dari dalam hutan belantara, dan terus mempropagandakan bahwa pemerintahan Indonesia masih ada. Mr. Sjafruddin berhasil menyelamatkan eksistensi Republik Indonesi.

Pada tanggal 13 Juli 1949 Mr. Sjafruddin Menyerahkan kembali mandat PDRI yang tidak pernah iya terima secara resmi kepada Soekarno-Hatta yang kembali ke Yogyakarta pada tanggal 13 Juli 1949. Dengan itu berakhir pula riwayat PDRI.

Mr. Sjafruddin Prawiranegara memimpin PDRI sejak tanggal 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949. Dengan kondisi semua kekuatan dan kekuasaan Negara dikuasai oleh Belanda. Kecuali apa yang ada di tangan Sjafruddin. Selama delapan bulan dia memimpin Indonesia secara de facto di Ibukota Bukittinggi dan sekitarnya.

Mr. Sjafruddin Prawiranegara Sang Penyelamat Republik

Sriyanto, M.P.I dalam bukunya “Sang Penyelamat Republik” menuturkan bahwa Tanpa PDRI, Republik Ini tdak akan ada. Tanpa Ibukota dan Kepemimpinan Nasional, Republik Indonesia secara defacto kehilangan eksistensi Akibat kegagalan perundingan lanjutan Renville. Pasukan Belanda melancarkan serangan militer keberbagai daerah terutama pusat Ibukota, Yogyakarta. Krena Itulah, PDRI merupakan simpul bagian penting dari kelangsungan republik ini.

 

Foto Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Sumber Minews.id

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here