Situs Mataram Kuno ditemukan di Kebun Duren Mijen

0
115

Semarang – Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama lembaga penelitian Prancis untuk penelitian kebudayaan di Asia (EFEO – Ecole Franqaise D’ Extreme Orient) melakukan eskavasi candi di Kampung Duduhan, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Proses Ekskavasi sudah dilakukan pada tanggal 25 Juli 2018 lalu dan akan berakhir tanggal 5 Agustus 2018.

“Ekskavasi sudah kita lakukan sejak 25 Juli kemarin dan dari proses penelitian ini kami menemukan banyak hal ” Demikian dikatakan koordinator ekskavasi dari Puslit Arkenas, Agustijanto Indrajaya (Jumat, 3/08)

Proses Ekskavasi ini merupakan kali kedua setelah sebelumnya dilakukan pada tahun 2015 yang lalu. Pada masa itu tim peneliti menemukan bentuk candi induk berukuran 9,3 x 9,3 meter. Sedangkan pada ekskavasi kali ini ditemukan tiga jejak candi Perwara. Candi perwara sendiri merupakan candi pendamping dari candi induk yang ditemukan sebelumnya.

“Sebelumnya, kami baru menemukan candi induk berukuran 9,3 mx 9,3 m. Lalu kita cek sebelah timur rupanya ada jejak bangunan baru candi perwara diperkirakan berukuran 5,4 mx 5,4 m,” terang Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan temuan situs di kebun durian warga milik Sutopo di kampung Duduhan Mijen itu sangat istimewa. Selain dianggap menjadi temuan situs candi terlengkap yang pertama kali ada di Kota Semarang, penemuan situs ini menunjukkan adanya peradaban tua sekitar pesisir utara Semarang.

“Dari hasil ekskavasi menunjukkan bahwa candi yang ditemukan merupakan peninggalan Mataram Kuno dari sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 dan bercorak Hindu Shiwa” ungkap Agustijanto.

Hal ini terlihat dari bentuk candi yang mirip dengan candi Prambanan di Klaten Jawa Tengah yang bercorak Hindu. Selain itu pada tahun 1970-an, warga sekitar sempat menemukan dua arca berbentuk Dewa Ganesa dan lembu Nandi. Ganesa sendiri merupakan anak Dewa Shiwa sedangkan Lembu Andini adalah tunggangan Dewa Shiwa. Selain itu juga ditemukan altar pemujaan.

” Ada temuan lain berupa sandaran arca yang disana ada ukiran trisula. banyaknya temuan yang saling berkait ini menandakan coraknya Hindu Siwa pada masa Mataram Kuno. Kalau arca Ganesha sekarang ada di Museum Ronggowarsito” jelas Agus.

Berbeda dengan Arca Ganesa yang ditempatkan di Museum Ronggowarsito. Kondisi Arca Lembu Andini sampai kini masih berada di desa Duduhan dan diletakkan diperempatan jalan oleh warga.

Lebih lanjut Agustijanto menhelaskan penemuan ini merupakan penemuan yang penting dan besar. Ia mengaku tidak ada temuan selengkap ini dikota Semarang.

“Ini penting, karena Kota Semarang belum ada candi utuh dan besar. Jadi, ini sudah cukup istimewa di Semarang, dengan candi induk dan tiga candi yang utuh,” tutur Agustijanto.

Sampai tanggal 5 Agustus 2018 nanti Agus bersama tim dari Arkenas ataupun EFEO menargetkan sebagian besar bagian candi bisa terbuka dan diteliti.

” Target penampakan pintu utama candi utama, tubuh candi sedikit kemudian candi perwaranya yang paling selatan sudah bisa dibuka dan kita nampakkan denahnya sehingga lengkap penelitiannya” pungkasnya

Ekskavasi ini merupakan rangkaian dari program Pusat Penelitian Arkenas untuk menemukan keterkaitan penyebaran agama Hindu pada masa Mataram Kuno di Pesisir Utara Jawa Tengah. Ekskavasi sendiri merupakan kegiatan penggalian yang dilakukan ditempat yang mengandung benda purbakala. (yeka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here