Senjaku (Aku, Kau Dan Jalan Hijrah)

0
170

Ada seorang wanita yang diam-diam menyimpan sejuta doa dalam lemari hatinya. Doa itu terbungkus rapi dalam balutan pengharapan. Iya, harapan akan hidayah yang bisa mengubah dirinya menjadi seorang hamba yang lebih taat. Ia sadari kekurangan pada dirinya, terkadang saat berjalan di luaran dia melihat seorang wanita lain terbungkus rapi dalam balutan hijab yang sempurna betapa hatinya iri pada wanita itu.

Seringnya diam-diam, di heningnya malam, di sebuah kamar kecil dia merenungi dirinya. Hingga genangan di bola matanya kerap kali membuat bulir-bulir air bening itu terjatuh dari sudut mata indahnya. Entah kenapa, di usianya yang sudah memasuki kepala dua dia merasa jarak antara dia dan Rabbnya begitu jauh. Dia merindukan sebuah keagungan cinta yang sesungguhnya. Iya, cinta antara seorang hamba kepada Rabb-Nya dan Rabb yang mencintai hamba-Nya. Perlahan ia susuri hari demi hari, kegelisahan itu kian sering mendera. Gejolak hatinya mengatakan bahwa ia ingin segera membenahi dirinya menuju baik. Tapi sayang, tidak di dapatinya akses untuk membantunya merealisasikan harapannya itu. Hingga akhirnya, ia hanya mampu diam membiarkan mimpinya mengalir begitu saja.

Suatu ketika hatinya benar-benar tak mampu meredam keinginan dalam hatinya, keinginan mengutarakan satu permintaan pada orang yang selama ini hanya di kenalnya lewat tatap sebentar saja. Dengan mantap, ia tak peduli apa pandangan orang lain padanya saat itu. Di ketuknya pintu kamar kecil itu di utarakannya niatnya itu dengan rona wajah memerah menahan malu, kalimatnya “temani aku mengaji dan ayo kita shalat bareng”. Seseorang di depannya itu pun hanya mampu terdiam takjub mendengar kata-katanya. Betapa tidak, selama ini mereka bagai air dan minyak, tak pernah bersentuhan apalagi menyatu. Dan kini, Allah satukan mereka lewat kisah sebakda magrib itu.

Kini, seseorang itu mungkin ingin berbicara padanya.

“ Bahwa terimakasih, untuk keberanianmu waktu itu, sebab dengannya satu pintu terbuka untuk saling membantu dalam rihlah hijrah. Terimakasih telah menjadi bukti bahwa Rabb memang sebaik-baik Sang Maha Cinta dengan mengirimkan satu sosok penuh cinta sepertimu hingga terlukis semua cerita penuh warna. Kita suka jalan-jalan, kita suka tester makanan, kita suka ke tempat-tempat baru, kita suka lomba lari, kita suka ngobrol berjam-jam di satu meja, kita suka liat bintang bareng, kita suka cerita panjang lebar di satu kamar sampai terlelap tidur, dan kita suka rooftop, suatu saat nanti ku mohon untuk tetap lah suka saling menyapa lewat doa dalam lautan rindu, jika tatap telah terhenti karena jarak ku mohon jadikan murojaah sebagai wadah untuk mengingat cerita indah kita, jadikan sujud khusu’mu sebagai bukti kau menyeriusi rindu dengan doa, jadikan senyum manismu sebagai pelipur kesedihanmu”.

Dan, jadilah seperti al Qamr yang cahaya redupnya begitu anggun, setia menemani an Najm di hamparan langit malam. Jangan seperti ad Dukhan yang letaknya di bawah tapi selalu memaksa untuk membumbung tinggi naik ke atas.

Jadilah Humairah dengan kecantikan akhlak seperti bunda ‘Aisyah, hingga dhahirmu akan menawan seperti Sarah. Dan untuk kesekian kalinya, lagi, lagi, dan lagi aku tak pernah bosan untuk menuliskan tentangmu juga tentang kita. Sebab hingga saat ini aku masih saja takjub dengan segala skenario indahnya. Aku, disini, masih tertegun dengan seukir senyum, ku harap kau pun disana mampu tersenyum semanis biasanya. Seperti bunga, yang rekahannya selalu saja mempesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here