Sejarah Panjang Gerakan Pramuka di Indonesia

0
120

setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai hari PRAMUKA, PRAMUKA merupakan satu-satunya gerakan kepanduan yang di akui oleh negara, saat ini PRAMUKA memiliki jumlah anggota yang begitu besar, namun demikian gerakan ini memiliki sejarah pembentukan yang begitu panjang. Dilansir dari Wikipedia, berikut kami sajikan sejarah panjang gerakan Pramuka di Indonesia

Perkemabngan Gerakan Kepanduan pada Masa Hindia Belanda

Catatan sejarah membuktikan bahwa pemuda Indonesia mempunyai andil besar dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemuda juga punya peran besar atas berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia.

Organisasi kepanduan di Indonesia yang menjadi cikal bakal Organisasi Pramuka, dimulai dengan adanya cabang organisasi kepanduan asal Belanda “Nederlandsche Padvinders Organisatie” (NPO) pada tahun 1912, yang  kemudian berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging” (NIPV) pada tahun 1916. Seperti yang dilansir dari Wikipedia

Kemdian muncul pula Organisasi Kepanduan yang lahir dari buah pikir bangsa Indonesia sendiri. Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie yang berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Muncul Berbagai Organisasi Kepanduan

Setelah itu muncul berbagai gerakan kepanduan yang menjadi bukti nyata bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, Organisasi Kepanduan yang muncul seperti  “Padvinder Muhammadiyah” yang pada 1920 berganti nama menjadi “Hizbul Wathan” (HW); “Nationale Padvinderij” yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan “Syarikat Islam Afdeling Padvinderij” yang kemudian diganti menjadi “Syarikat Islam Afdeling Pandu” dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.

Pada tahun  23 Mei 1928 terbentuklah Federasi Kepanduan “Persaudaraan Antar Pandu Indonesia “ (PAPI) yang beranggontakan Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS yang menjadi perwujudan hasrat persatuan dari organisasi-organisasi kepanduan yang ada. Sayangnya Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi. Dan akhirnya  pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan). Sementara PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.

All Indonesian Jamboree

Gerakan kepanduan terus berpunculan pada tahun 1928-1935 baik yang bernafas utama kebangsaan maupun bernafas agama. Organisasi kepanduan itu diantaranya Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK), Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI), Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathon, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Kemudian Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan “All Indonesian Jamboree”. Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan “Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem” disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.

Perkembangan Gerakan Kepanduan Pada Masa Bala Tentara Dai Nippon

“Dai Nippon” merupakan nama yang digunakan dalam menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa pendudukan Jepang, Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepramukaan, dilarang berdiri. Karena Pramuka merupakan suatu organisai yang menjungjung tinggi nilai persatuan sehingga bangsa jepang tidak mengijinkan Pramuka tetap lahir di bumi pertiwi. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan dan semangat kepramukaan tetap menyala di dada para anggotanya.

Perkembangan Gerakan Kepanduan Pada Masa Awal Republik Indonesia

Baca Juga : Sjafruddin Prawiranegara, Presiden Darurat Penyelamat Republik

Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepramukaan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja pembentukan satu wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.

Kongres tersebut dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta  yang menghasilkan kesepakatan pembentukan Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan “Janji Ikatan Sakti”, Oraganisai ini kemudian diakui pemerintah RI sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dan ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.

Tahun-Tahun Sulit Gerakan Pramuka

Tahun-tahun selanjutnya merupakan tahun sulit yang dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Kongres II di Yogyakarta Gerakan Pramuka

Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepramukaan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950,

Kongres ini menghasilkan keputusan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepramukaan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah. Dilansir dari wikipedia

Sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, wakil-wakil organisasi keppanduan mengadakan konfersensi di Jakarta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.

Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia. Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepramukaan putra, sedangkan bagi organisasi putri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.

Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.

Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduanan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.

Seminar Tugu ini menghasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan gerakan-gerakanan kepanduan yang ada dapat dipersatukan.

Sejarah Terbentuknya Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi dalam menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, kita perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.

Dari paparan yang telah di uraikan diatas, kita mengetahui bahwa gerakan kepanduan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Bahkan Jumlah itu tidak sepadan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.

Pada masa perintisan ini, Muncul Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan pada Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila.

Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30).

Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara.

Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Melalui Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka, Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi.

Kemudian disusul dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.

Sejarah Lahirnya Gerakan Pramuka

Setelah membaca runtutan sejarah di atas kita dapat mengetahui bahwa Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan

Pertama Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka

Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya.

Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.

Sementara itu Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka pada tanggal 30 Juli 1961 di Istana Olahraga Senayan. Sehingga Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.

Sejarah Gerakan Pramuka : Penetapan Hari Pramuka

Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.

Gerakan Pramuka Resmi di Kenalkan

Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan Presiden dan berkeliling Jakarta.

Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai.

Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka

Demikian Sejarah Gerakan Pramuka di Indonesia yang begitu Panjang, semoga gerakan ini akan semakin memberikan konstribusi baik bagi bangsa dan Negara. SALAM PRAMUKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here