Kelas Rindu

2
404

By ( princessnya wawa “Bara 8/5/19 -21:11” )

Pertemuan, dua wanita yang awalnya tak saling kenal. Bahkan memikirkan akan menjadi sebait kisah yang tak akan pernah habis jika di ceritakan saja tidak pernah. Tapi begitulah, jika Sang Raja telah menetapkan suatu takdir. Yang tak pernah terpikir bahkan sedikit saja tidak pernah terbersit, ternyata mudah saja baginya untuk menjadikan satu tahun lebih menjadi banyak cerita.

Iya, dia adalah gadis bermata sipit, senyumnya manis,dan sangat periang. Dia berasal dari Kota Gadis, yang sebelumnya belum pernah ku temui sama sekali, kini ternyata menjadi bagian daripada lembaran kisah hidupku. Sosok anggun yang begitu ceria, terkadang sangat menyebalkan dengan gaya ngeyelnya tapi lebih banyak membuatku rindu dengan tawa dan senyumnya. “embakkk haus, embak laper, embak aku males nugas temenin nugas ya, embak kita kesini yuk ada bazar buku, embak mau gak besok kita pagi-pagi ke pasar, embakkkk aku berangkat dulu ya assalamu’alaikum, embakkkk ini gimana, embakkkkk sittttt ”. Iya, itulah serentetan kalimat yang biasanya keluar darinya. Kadang aku cukup di buatnya geleng-geleng kepala sambil menarik nafas. Bagaimana tidak, belum apa-apa kadang dia sudah heboh sendiri sampai-sampai aku hanya di bikin bengong dan diam kalau dia sudah heboh begitu. Tapi, itulah momen yang sering ku rindukan. Aku masih sering merindu tentangnya, rindu bilang “udah to wa tenang dulu gak usah heboh gitu” yang kadang di barengi dengan wajah cemberutku. Hehe

Sejujurnya, kadang kita pun tak baik-baik saja. Beberapa kali kita mungkin menangis berdua, kita berantem kecil sampe nangis, diem-dieman, bahkan debat-debat kecil sering mewarnai. Tapi, yang ku sukai dari ukhuwah ini adalah sikap dewasa. Aku yang sering diam ketika marah, tapi dia akan tetap menggoda agar aku cepat sembuh dari marahku. Atau dia yang akan diam, tapi setelahnya dia akan mencariku lagi. Pun, sejujurnya aku tak pernah membedakan pertemanan dengan si ini dan itu. Tapi , kenapa aku begitu memerhatikannya, karena memang kita dekat, sangat dekat. Kita tidak pernah menjual rahasia pribadi kita, yang ada kita saling terbuka soal apapun itu.

Jika aku begitu menyayanginya, bukankah itu hakku? Apapun alasannya, aku tak mungkin menjelaskan satu persatu. Sebab telah banyak air mata yang kadang ia bendung atau tanpa sadar bulir bening itu  diam-diam keluar dari ujung matanya untuk setiap kisah yang kita lalui bersama. Bagiku, dia bukan hanya sekedar teman melainkan “hadiah dari Allah” yang di berikannya tanpa syarat bahkan tanpa pernah ku prediksi. Tapi, kini aku sangat bersyukur karena-Nya. Aku tak pernah menyesal untuk setiap waktu yang ku lewati dengannya, tenaga yang ku curahkan untuk bersamanya, atau apapun itu. Aku sadar, aku mendapat banyak dari apa yang tak bisa di hitung dengan mata atau jari. Tapi, ketika aku menghadap Rabbku, aku punya harapan yang kelak ada sosok yang ku harap bisa menjadi hujjah untuk meringankan hisab dan mizanku di yaumil akhir. Bahkan ketika aku tak ada di Surga, ku berdoa semoga dia mengingatku dan mencariku untuk bersamanya dalam Surga Firdaus-Nya.

Jika kini aku jauh, jauh dari pandangan atau kabar. Percayalah bahwa kini aku dekat, tetap dekat malah semakin dekat. Dalam sujud dan doaku, ku sebut namamu sebagai adik yang begitu ku rindui. Berharap Allah mudahkan setiap urusanmu, menjagamu setiap waktu, memberimu kesehatan, menguatkan langkah hijrahmu, juga mendekatkanmu dengan orang-orang baik.Maaf, jika kadang aku terlampau keras dalam menegurmu. Bukan aku tak sayang, bukan aku benci, bukan aku marah beneran. Bukan. Aku hanya terlampau sayang, sayang sebagai kakak yang begitu mencintai adiknya. Belajarlah menghargai sebuah komunikasi, belajarlah komitmen soal apapun, dan ringanlah  penjelasan ketika kau tak bisa melakukan sesuatu. Agar tak ada yang menunggumu tapi malah kau kecewakan sebab kurang menghargai komunikasi. Dan asal kau tau, dengan gayaku yang mungkin kelihatan keras aku ingin kau paham bagaimana cara mandiri dan kuat berjalan sendiri, sudah kukatakan bahwa mungkin akan ada saatnya aku tak membersamaimu lagi. Dan, ku harap kau sudah mampu untuk berdiri tegak tanpaku. Ingat, dulu hadirku saja hanya sebatas perantara, jika kini aku jauh maka harusnya tak ada masalah untuk hijrahmu. Kau tetap akan baik, bahkan harusnya semakin baik, Allah yang memberimu segala nikmat hidayah maka selalu mintalah kepada-Nya kekuatan dan keteduhan jiwa.

Disini, aku merinduimu setiap waktu. Membuka fotomu, foto kita, video-video kita berulang-ulang. Rasanya, baru kemarin kita bertemu sekarang kita sudah harus berpisah. Tapi, inilah takdir. Tugas kita hanya ikhlas dengan apapun ketetapan-Nya. Sembari terus menyemogakan waktu terbaik untuk dapat bertemu dan memulai kisah kita lagi. Wa, sampai kapanpun aku akan menganggapmu sebagai adikku. Sejauh apapun kita kini dan nanti, jadikan doa sebagai kelas kita untuk berdiskusi soal rindu. Tentunya bersama Sang Maha Guru. Pemegang setiap nyawa dan Pengatur apapun yang ada di bumi dan langit. Aku merinduimu dengan sangat, diamku bukan aku benci, bukan karena aku marah untuk kesalahan-kesalahan kecilmu, bukan. Aku tak pernah memasukan kemarahan itu ke dalam hatiku. Aku hanya ingi kan kau untuk terus belajar menjadi baik. Dan maaf, inilah sifatku, keras dan tegas dalam hal apapun. Aku meminta maaf dan semoga kau memaafkan segala kesalahanku selama ini.

Terimakasih banyak wa, sebab telah banyak waktu yang kau sediakan untuk membuat cerita bersamaku. Sampai pada tulisan ini mampu kau baca, mungkin saat ini aku sedang beradaptasi dengan rasa yang baru. Rasa yang masih membuatku merenung dengan rasa rindu. Rindu semua yang kita lukakan bersama, rindu obrolan kita, rindu tawa candamu, rindu malam yang kita habiskan dengan canda di atas motor. Aku rindu berkeliling kota dengan beberapa nasi bungkus kita. Dan jujur ini cukup sulit, membiarkan semuanya seolah biasa saja, membendung berjuta rindu yang tak tau kapan akan bisa bersua. Ini sangat sulit, tapi, ku tau mengganggumu dengan chat rindu setiap hari adalah hal yang akan sangat menyebalkan bagimu. Ku tau, kini hari-harimu di penuhi dengan tugas semester akhir dan persiapan sidang. Jadi cukuplah dari kejauhan aku mengamatimu. Mendoakanmu, dan menyemogakan perjumpaan kita lagi.

Aku tak pernah tau seberharga apa aku di matamu, atau kau anggap aku apa. Bahkan, aku yang terus saja menulis tentangmu, tak pernah peduli soal itu. Bagiku kini melihatmu baik-baik saja dari kejauhan sudah sangat bahagia. Selamat berjuang untuk semester akhirmu wa. Ingat, aku bakal sangat marah ketika kamu males-malesan belajar. Biasanya aku bakal ngomel sendiri di kamarmu meskipun kamu tinggal ngalor ngidul sibuk sendiri tapi tetap saja aku ngegrundel demi bikin kamu mau belajar. Meskipun aku sendiri…. Yah gitu deh.. hehe (pernah keluar kelas gara-gara telat) *eh di skip aja deh cerita yang ini haha*

Dan ketika kini jarak membuat sekat yang begitu menyakitkan dalam rindu. Tapi selalu lah ingat bahwa, kita masih punya Allah, yang ku yakin akan selalu menyampaikan rinduku padamu. Kapanpun aku mau, aku bisa menemuimu dalam sujud-sujudku. Sebab, ruang kita untuk bertatap dalam temu rindu saat ini hanyalah dalam lautan sujud dan doa

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here