CERPEN : AKU BUKAN SIAPA-SIAPA

0
180

Karya : Keke Fatma Asih Sri Sayfudin

Ketika senja menyapa, itu tandanya hari akan berubah menjadi malam. Keemasan yang indah, menyejukkan, akan berubah menjadi gelap, kelabu, sunyi, sepi.

Tawa tak lagi bisa ku rasa dengan keceriaan, tawa pasti akan berubah menjadi lorong kenangan yang membawaku pada sebuah tangisan yang tak pernah hilang disetiap malamku.

Dulunya, Aku puteri kecil yang selalu terbalut oleh kasih sayang Ayah dan Bunda. Yang setiap hari mungkin tak pernah kekurangan pelukan hangat Ayah dan Bunda. Setiap malam Bunda tak pernah lupa membacakan dongeng saat menjelang tidur, sungguh aku benar-benar merasa menjadi Puteri di Istana Raja yang mewah nan megah.

Setiap pagi, wanita yang selalu ku panggil bunda pasti membuatkan aku menu favorit. Telur Mata Sapi, iyaa aku begitu menyukainya. Tak ada yang bisa menandingi telur mata sapi buatan Bundaku. Selain pintar memanjakan lidahku dengan makanan buatannya, Bundaku juga terkenal sebagai wanita yang lemah lembut, penyayang dan cantik tentunya. Hehe… maklum Bundaku menikah di usia muda saat itu katanya, jadi tidak heran jika Bundaku terlihat lebih muda dibandingkan dengan Bunda teman-temanku.

 “Icha, waktunya makan sayang. Telurnya sudah Bunda siapkan nak” suara itu, iya suara lembut itu selalu berhasil membuatku berpaling dari selimut hangatku. Aku selalu bersemangat saat suara itu terdengar di telingaku. Aku pasti bergegas turun menemui Bunda dan menghabiskan makanan favoritku dengan lahap. “heumm… Bunda memang benar-benar koki yang handal”. Bundaku selalu tersenyum anggun dan menciumku setiap kali aku mengatakan kalimat itu.

            Oh iya, aku sampai lupa. Ada seorang pria di rumahku yang tak kalah baiknya dari Bunda. Dia selalu pergi pagi sebelum aku bangun dan pulang menjelang Maghrib. Waktu bertemu ku dengan Dia begitu singkat setiap harinya. Tapi Dia tak pernah lupa memberiku kasih sayang dan perhatiannya setiap hari. Dia benar-benar menyayangiku, selalu memanjaku, tak pernah berkata dengan nada tinggi padaku. Dia ayahku, pria yang tak pernah ingin aku menangis. Yang selalu panik saat aku sakit. Iyaa, dia pahlawanku. Aku begitu menyayangi Ayah dan Bunda. Mereka berdua seperti tak ada kurangnya di mataku. Terimakasih Tuhan, Engkau hadirkan aku di tengah-tengah mereka. Aku beruntung.

Hallo sayang, puteri ayah yang cantik. Gimana sekolahnya hari ini sayang?” Selalu begitu pertanyaan Ayah saat menelfonku di jam makan siangnya. Ayah tak pernah ingin melewatkan waktu luangnya tanpa kabarku hehe. “Hallo Ayahku yang jelek, Icha tadi dapet nilai A dari Bu Guru. Icha maju kedepan kelas Yah, teman-teman Icha tepuk tangan. Ayah bangga kan?” Waah, anak Ayah pintar. Nanti sepulang dari kantor Ayah beliin hadiah buat Icha. Icha jangan nakal di rumah sama Bunda ya. I love you sayang”

Ayah selalu memanjakan aku setiap harinya. Dia tak mau masa kecilku tak bahagia. Bunda dan Ayahku begitu serasi, mereka tak pernah membuatku bersedih. Sebisa mungkin, Ayah dan Bunda selalu membuatku bahagia. Dulu, sebelum malam itu tiba.

            Malam dimana aku terlelap nyenyak dengan selimut hangatku, disaat orang-orang seharusnya pun sedang nyenyak menikmati malam. Braagggg… tiba-tiba suara itu mengagetkan ku. Terdengar ribut antara dua orang. Aku coba mendengarkan apa yang mereka ributkan, tapi aku gagal menjangkau suara itu. Hingga akhirnya Aku bangun dari tempat tidurku. Aku menangis sejadi-jadinya. Orang yang setiap harinya terlihat begitu romantis di depanku, mengapa tiba-tiba mereka berubah seperti ini. Aku melihat Ayah memukul Bunda, Ya Tuhan. Aku seperti mimpi, ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Aku menangis, berlari memasuki kamar. Ku dengar ada langkah yang mengikutiku, iyaa Ayah mengikutiku.

Ayah memelukku di tengah tangisan yang membuat dadaku sesak, mengingat sakitnya kejadian tadi. Tak banyak yang ku dengar dari ucapan Ayah. Aku hanya menangkap, bahwa Ayah mengatakan Aku itu bukan anak kandungnya. Ayah hanya menolongku, Ayah hanya kasian jika aku nantinya lahir tanpa kehadiran seorang Ayah. Oh Ya Tuhan, kenapa hatiku begitu sakit. Aku tak pernah menyangka akan hal ini. Semua ini tak ingin ku ketahui. Aku tak mau mendengar hal ini, aku tak mau Tuhan…

Mengapa kenyataan ini harus ku rasakan? Mengapa aku harus tau hal yang sebenarnya. Aku ingin hilang ingatan, aku benci mengingat ucapan Ayah. Aku benci kenyataan ini. Semua begitu menyakitkan bagiku. Dan ternyata aku bukan Icha puteri kandung Ayah.

Terimakasih selama ini memperhatikan, dan memanjakanku meski sebenarnya aku bukan puteri kandungmu Yahhh. I Love You.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here