Asal Muasal 22 Desember sebagai Hari Ibu

Setiap Tanggal 22 Desember kita semua memperingati hari Ibu. Bagiaman si sejarahnya tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu di Indonesia

0
47
Ilustrasi, Sumbur asatu.top

Setiap Tanggal 22 Desember kita semua memperingati hari Ibu. Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.(Wikipedia.com).

Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Seoekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Kenapa tanggal 22 Desember di Peringati Hari Ibu?

Kongres Perempuan

Baca Juga : Sejarah Panjang Gerakan Pramuka di Indonesia

Pemilihan tanggal 22 Desemer sebagai hari ibu tentu saja bukan tanpa Alasan. pada tanggal 22 hingga 25 Desember 1928 Ribuan perempuan hadir mengadakan Kongres di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. (Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.) Kongres Perempuan ini diketuai oleh R.A. Soekonto dengan Nyi Hajar Dewantoro sebagai wakilnya & Soejatien (Ketua Poetri Indonesia Cabang Yogya) sebagai sekretaris.

Kongres Perempuan, Sumber TugasSekolah.Com

Dalam kongres tersebut Mereka memperjuangkan bagaimana perempuan bisa memiliki hak yang sama dengan lelaki dalam kedua hal tersebut. Surat kabar lokal berbahasa Jawa, “Sedijo Tomo” menyatakan kekagumannya atas hasil-hasil kongres tetapi juga mengingatkan agar gerakan perempuan yang meski terpengaruh Barat jangan sampai kehilangan ciri-ciri Timur-nya.

Beberapa pidato yang dibacakan oleh tokoh-tokoh perempuan pada saat Kongres pun tidak jauh – jauh dari tema-tema kesetaraan kaum perempuan seperti pidato yang disampaikan oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati) yang berjudul “Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian”, Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta) membacakan pidato dengan judul “Deradjat Perempoean”, R.A. Soekonto (Wanita Oetomo) berpidato dengan judul “Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga”, dan sebagainya

Hasil Kongres Perempuan

Dilansir dari tribunnews.com kongres ini diperoleh beberapa hasil seperti Pendirian badan federasi bersama untuk menyatukan organisasi-organisasi perempuan bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia atau PPPI, Menerbitkan surat kabar dengan susunan pengurus dari anggota PPPI yang antara lain Nyi Hadjar Dewantara, Hadjinah, Ny Ali Sastroamidjojo, Ismoediati, Budiah dan Soenaryati, Mendirikan studiefonds yang bisa dimanfaatkan oleh perempuan tidak mampu, Melakukan penguatan pada kegiatan kepanduan putri, dan Mencegah terjadinya perkawinan anak-anak.

Selain itu kongres ini juga menghasilkan keputusan untuk Mengirimkan mosi kepada pemerintah yang berisi tuntutan supaya diadakan fonds atau dana bagi janda dan anak-anak, tuntutan tak mencabut dana pensiun, memperbanyak sekolah untuk putri serta tuntutan kepada Raad (pengadilan) agama agar setiap proses thalak bisa diperkuat dengan bukti tertulis dan sesuai dengan peraturan agama.

22 Desember di Peringati Sebagai Hari Ibu

Atas dasar semangat, dan peran kaum perempuan yang tertuang pada kongres tersebutlah akhirnya tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu di Indonesia. Meski belum secara resmi peringatan Hari Ibu pada 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan III 1938 atau sepuluh tahun setelah Kongres Perempuan I, dan baru diresmikan dengan adanya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here