Al Azhar ini Kampus Macam Apa Sih?

0
84
Al Azhar , Sumber : Istimewa

Banyak orang menganggap kuliah di Al Azhar Kairo, menjadi sebuah prestasi yang membanggakan, baik melalui jalur beasiswa maupun reguler. Seperti mahasiswa asal Cilacap, Jawa Tengah, Muhammad Abdul Arief.

Ia merupakan lulusan salah satu pondok pesantren modern di Bekasi yang melanjutkan pendidikannya di Mesir. Berikut pengalaman Arif selama menjadi mahasiswa di Al Ahzar.

Sistem Perkuliahan

Sistem perkuliahan di Al Azhar bisa dibilang surganya orang yang ingin gagal dan tantangan bagi yang ingin sukses.  Biasanya di Indonesia, perkuliahan tidak lepas dari presensi. Tapi di Al Azhar sistem itu tidak berlaku sama sekali, tidak ada presensi. Mahasiswa bebas untuk pergi kuliah kapan saja. Bahkan mahasiswa jurusan tafsir Al Quran ini pernah hanya masuk dua kali selama satu bulan.

Hanya saja tetap harus mengikuti ujian setiap semesternya, dan paling kurang hanya boleh gagal di dua mata kuliah saja. Jika gagal pada tiga mata kuliah, maka harus tinggal kelas dan mengulang kembali. Dan kesempatan untuk mengulang hanya dua kali. Jika pada tahun ketiga gagal lagi, maka harus pindah ke jurusan atau fakultas yang lain untuk meneruskan kuliah.

Fakultas Yang Banyak Diminati Mahasiswa Indonesia

Baca Juga : Cara Pendaftaran Beasiswa LPDP

Fakultas yang banyak diminati mahasiswa Indonesia di Al Ahzar adalah fakultas syari’ah, ushuluddin, dan lughoh ‘arabiyah. Sistem pendidikan di Al Ahzar tidak menggunakan sistem semester seperti di Indonesia. Tetapi menggunakan tingkatan 1, tingkat 2,3&4, dan setiap tingkat menempuh waktu selama 1tahun belajar. Jadi untuk menyelesaikan program Sarjana di Mesir, dibutuhkan masa waktu 4 tahun pembelajaran, sedangkan S2 minimal 6 tahun pembelajaran.

Namun, Tidak sedikit mahasiswa Al Azhar yg menempuh hingga 5-7 tahun untuk memperoleh gelar Lc (Licence). Untuk program S1 di negara Timur Tengah tidak ada skripsi atau tugas akhir, syarat lulus hanya ujian.

Tapi ujian yang diadakan tiap tahun soalnya tidak bisa dibilang mudah. Disamping soaal yan sulit, jumlah soal yang hanya 3 atau 4 soal setiap mata kuliah. Namun, jawabannya bisa menghabiskan 4-5 lembar kertas folio. Ditambah  jika masa ujian bersamaan dengan musim dingin dimana suhu bisa mencapai dibawah 10°C, mahasiswa harus berjuang ekstra.

Beradaptasi dengan Lingkungan Al Azhar 

Bukan hal yang mudah beradaptasi dengan lingkungan disana. Mahasiswa 22 tahun ini, kurang lebih membutuhkan waktu satu tahun untuk beradaptasi di negara yang memiliki 4 musim ini, dimana saat musim panas suhunya bisa mencapai 45°C dan musim dingin mencapai 1°C. Selain beradaptasi dengan cuaca, ia juga harus beradaptasi dengan makanan yang hampir semua rasanya hambar, asin atau masam. 

Selanjutnya, lingkungan yang bisa dibilang jauh dari kata nyaman karena kotor, sampah berserakan dijalanan, dan wc umum yang tidak karuan baunya. Dan juga keamanan yang sangat-sangat ketat, apalagi awal masuknya tahun 2014, masih banyak demo pasca pengkudetaan presiden yang sah Husni Mubarak oleh presiden Al-Sisi sekarang,  yang memakan korban ribuan umat muslim ketika itu.

Sabar dan Berjuang jadi Kunci di Al Azhar 

Dua kata yang harus  dipersiapkan untuk dapat kuliah di negeri Fir’aun ini, sabar dan berjuang. Jangan kaget jika yang ditemukan disana adalah orang-orang yang kasar, lingkungan yang tidak sesuai harapan, terlebih sifat kasar orang mesir yang bahkan bercandanya saja seperti marahnya orang Indonesia pada umumnya.

Disamping itu, hal positif yang perlu dicatat adalah kesholehan warga negara Mesir yang patut diacungi jempol. Setiap saat kita akan terkagum dengan mereka yang membaca Alqur’an dimanapun, di dalam bus, di pasar, dan di tempat yang lainnya, juga para pemudanya yang hampir 80% hafal Alqur’an 30juz.

Sebagian besar toko tutup selama shalat berlangsung, dan Masjid penuh dengan para pemuda, anak-anak dan lansia untuk solat berjama’ah. Kita akan kagum melihat mereka yang mengucapkan salam dimanapun dan kapanpun, bahkan ketika akan masuk kedalam bus dan tempat wudhu’ sekalipun.

Beasiswa Kuliah di Al Azhar 

Bagaimana dengan beasiswa? Jangan khawatir soal itu, mahasiswa yang mendapatkan prestasi jayyid, jayyid jiddan dan mumtaz akan dihargai di sini, mahasiswa bisa mendaftar di Bait zakat (salah satu yayasan pemberi beasiswa). Beasiswa yg diberikan pun tidak sedikit 4.500Le lebih setiap 4 bulan, atau sekitar Rp 4.000.000.

Biaya Hidup di Al Azhar 

Selain itu, mahasiswa Indonesia sebagian besarnya juga mendaftar di Jam’iyah Syar’iyah yang membagikan beasiswa 100le setiap bulannya, dan masih banyak lagi beasiswa yang bisa didapat disana. Biaya hidup disana jauh lebih murah daripada di Indonesia, bisa dibilang Rp 1.000.000., bisa untuk sebulan membayar sewa rumah, uang makan, transport dan membeli buku.

Bagi kawan-kawan di Indonesia yang berminat melanjutkan kuliah di Mesir, setiap tahunnya Kemenag dan KBRI Kairo membuka pendaftaran ke Al Azhar dan disana dibagi dua, ada yang beasiswa dan non beasiswa. Untuk beasiswa nantinya akan diambil hanya 20 orang untuk nilai tertinggi, semua biaya pemberkasan, tiket pesawat ditanggung pemerintah dan sesampainya di kairo pun akan dimasukan ke asrama, semua kehidupan sehari-hari sudah ditanggung. 

Tetapi api untuk jalur non beasiswa, calon mahasiswa yang mendaftar dan ikut seleksi, jika nilainya diatas rata-rata yang sudah ditentukan pasti akan diterima, hanya saja ongkos dan rumah tinggal tidak disediakan atau di luar asrama, dan mungkin diawal agak sedikit mengocek saku pribadi untuk pemberkasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here