Aku Di Khitbah Hidayah

0
175

Oleh : Siti Juliana

Karanganyar, Sabtu 21 November 2017 pukul 19:41 WIB. Pertama kali aku melangkahkan kaki di majlis ilmu bersama saudariku. Ku coba resapi detik demi detik dalam menyelami lautan ilmu disana.

Ya, ilmu yang bertahun-tahun aku rindukan kehadirannya. Dulu, aku hanya memendam semuanya dalam lemari hati. Ku simpan rapat-rapat semua kerinduanku pada apa yang aku rasakan sekarang, ya, kerinduan seorang hamba pada Rabbnya. Kedekatan antara seorang insan lemah dengan Rabb Sang Maha Agung. Tepat, 2017 ku alami semua yang selama ini hanya berada dalam anganku semata. Slow but sure, perlahan tapi pasti Allah suguhkan kejutan-kejutan manis untuk hidupku.

Semua bermula ketika aku mengalami kegelisahan dan kebimbangan di dalam hidupku. Menginjak usia 20 tahun, seolah Allah peringatkanku dengan sakit yang menyerang selama berhari-hari. Seketika hidupku terasa hambar, semua terasa datar dan kosong. Ada sesuatu yang sebenarnya aku cari di dalam hatiku, tapi aku hanya berada pada kebingunganku sendiri. Ku coba menelaah, bermuhasabah dan bertanya pada diriku sendiri “ Sebenarnya apa yang salah? Apa yang kurang?” Aku masih saja merasa kosong di saat semua orang berusaha membahagiakan dan menghiburku.

Di sepertiga malam, ku benamkan wajahku pada sujud yang begitu dalam, ku angkat kedua tanganku dan ku tadahkan untuk bermunajat kepada-Nya. Tak terasa bulir bening itu mengalir deras dari sudut kedua mataku. Sunyinya malam berubah menjadi tempat paling nyaman untuk memecahkan semua kerinduan di dalam hati. Apa yang selama ini hanya mampu ku simpan rapat-rapat dalam lemari hati akhirnya dapat ku luapkan. Ku adukan semua pada Rabbku malam itu.

Setelah berhari-hari aku hanya terbaring lemas di atas kasur putih dengan rasa sedih yang tak tau apa sebabnya, akhirnya aku bisa kembali bertolak di kota perantauan tempat aku menimba ilmu. Satu lagi, ini adalah perancangan dari Allah yang aku tak pernah membayangkan sebelumnya, dimana aku di kenalkan dengan saudari seiman yang aku sendiri tak habis pikir bagaimana awalnya kita bisa menjadi sedekat sekarang.

Yang jelas ku yakin ini adalah skenario terindah dari Allah Jalla Jalaluh. Aku masih ingat jelas bagaimana dulu aku sangat membenci tempat ini, menyalahkan kenapa harus berada disini, bahkan berkali-kali berpikir untuk pergi. Tapi, hati kecil selalu berkata “jangan dulu, usaha sedikit lagi”. Ternyata, inilah bingkisan yang Allah simpan untukku selama ini, mungkin aku tak masuk pada PTN yang aku inginkan, mungkin aku tak pernah memimpikan akan disini, mungkin awalnya aku begitu benci. Tapi ternyata, kini aku begitu mencintainya, bahkan aku takut meninggalkannya, meski suatu saat tetap aku akan meninggalkannya tapi setidaknya aku bersyukur karena disini ku jemput manisnya hidayah.

Yang harus di ingat adalah bahwa hidayah selalu mengkhitbah setiap hamba, tapi hanya sedikit yang mau menerima khitbahnya yaitu hanya orang-orang yang hati dan jiwanya sadar. Dan kini, aku mengerti bagaimana manisnya hidayah itu. Kala berteman dengan orang-orang shalih, duduk di majlis ilmu agama, dan berbuat baik pada sesama adalah satu kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadaku.

Memang, menggalaui takdir bukanlah sikap yang baik sebab di balik ketidaksukaan menurut kita bisa jadi ada hal membahagiakan yang sedang Allah simpan untuk kita. Seperti halnya jika dulu aku berada di kota yang aku inginkan, hidup sesuai rencana awal dan semua hanya tentang keinginanku, mungkin kini aku tak akan mengenal agama seindah ini.

Jadi ketika kau di khitbah hidayah, terimalah dia dengan hati bahagia. Jangan sampai kematian mendahulinya.

Meskipun jalannya sepahit Jadam, tapi yakinlah bahwa hasilnya lebih manis daripada nektar. Kini setahun sudah ku susuri jalan-jalan perubahanku. Aku tak ingin bilang bahwa aku baik, sebab memang aku belum baik dan mungkin tidak sebaik apa yang orang lihat. Masih banyak kurang dan salah disana-sini. Namun, bukankah setiap hamba tugasnya adalah saling mengingatkan. Maka disini aku hanya ingin menyampaikan bahwa “ batu yang keras saja ketika ia di tetesi air terus menerus lama-lama akan lapuk juga, maka seperti itulah hati, sekeras apapun hati jika kita terus menyiraminya dengan Al Qur’an dan cahaya Sunnah-Nya niscaya ia akan lembut jua bak tetes embun di waktu fajar”.

۞ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

” Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nur : 35)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here